Sering sekali kita
memuji sang mentari yang menerangi hari-hari kita, namun akhirnya mentaripun
hilang disaat disaat datangnya waktu malam. Setiap manusia yang hidup dibumi,
pasti merasakan kisah keluh disaat mentari harus pergi dari siang. Terkadang
bagi orang yang sedang melakukan tugas penting harus terhenti karena terang
telah ditelan oleh kegelapan, dan kisah itu dirasakan oleh seorang pemuda yang
bernama Ringgo yang berasal dari desa tanjung pauh. Ringgo adalah seorang
pemuda yang lugu dan belum tahu betapa buasnya
kehidupan. Dengan keluguan yang ada pada diri Ringgo, ternyata Ringgo
memiliki bakat yang luar biasa yaitu melukis dan bisa bernyanyi dengan baik,
padahal Ringgo waktu itu sedang kuliah di yayasan Widyaswara Indonesia yang
bertempat di solok selatan dan mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Di solok selatan,Ringgo tinggal sendiri di kossan dengan kehidupan yang
sederhana di kos. Ringgo sungguh unik,
ia tidak memilih jurusan yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya, Ringgo
lebih memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar karena ingin belajar
beberapa pendekatan didalam hidup,psikologi,dan karakter-karekter manusia
dengan tujuan ingin lari dari keluguannya.
Waktu kuliah yang tepatnya
pada saat Ringgo semester tiga, Ringgo bertemu dengan seorang gadis yang
bernama Nadin yang juga seorang mahasiswi di yayasan Widyaswara Indonesia.
Pertemuan antara Ringgo dengan Nadin berawal dari perkenalan saat acara diskusi
kecil yang dibuka oleh mahasiswa dan terbuka untuk seluruh mahasiswa Widyaswara
Indonesia. Saat itu, Ringgo sangat tertarik dengan karakter yang dimiliki oleh Nadin
karena Nadin memiliki sikap yang sopan dan memiliki sifat yang sesuai dengan
karakter yang didambakan oleh Ringgo. Disaat acara diskusi selesai,Ringgopun
menghampiri Nadin diluar ruangan dan merekapun ngobrol. Dengan bahasa Ringgo
yang sopan terhadap Nadin, akhirnya obrolan mereka sangat nyambung dan mereka
mulai akrab.
***
Setelah lama dekat
dan bahkan sering berkomunikasi dengan Nadin secara langsung maupun lewat
handphone, Ringgo mulai memuji sang mentari yang sedang bersinar “kau begitu
sederhana Nadin,,!sopan dan santunmu membuat aku gugup,!”ucap Ringgo didalam
hatinya. Sementara itu, ternyata Nadin juga menyimpan perasaan yang sama
seperti yang dirasakan oleh Ringgo. Hari-hari yang dilalui oleh Ringgo selalu
diisi oleh kehadiran Nadin disisinya baik diwaktu senggangnya maupun disaat
berada dikampus tempat kuliahnya,hingga akhirnya Ringgo dan Nadin berpacaran.
Ringgo merasakan
seolah ia telah menggenggam mentari yang sedang bersinar, ia merasa bahagia
karena wanita yang memenuhi karakter seperti yang ia suka itu telah berhasil ia
miliki. Dari awal jadiannya Ringgo dengan Nadin hingga setahun jadian,
kebahagiaan yang dirasakan oleh sepasang kekasih itu sangat terlihat bagaikan
sepasang merpati yang sedang bercanda diranting pinus. Disaat itu juga, sangat
terlihat hubungan Ringgo dengan Nadin bagaikan mutiara yang tidak bisa terlepas
dari cangkangnya sehingga Ringgo merasakan bahwa ia telah terlepas dari
keluguannya dan mulai merasakan suasana hidup yang baru. Ternyata, dengan
kehadiran Nadin di kehidupannya merubah segalanya dari Ringgo.
Tahun pertama
terlewati oleh Ringgo bersama Nadin. Memasuki tahun yang kedua hubungan Ringgo
bersama Nadin, mereka mulai merasakan pahit maupun asam dengan masalah yang
muncul di hubungan mereka. Sore itu, ketika Ringgo dan Nadin sedang duduk
bersama teman-teman mereka,Ringgo melihat ada yang tidak beres pada kepribadian
Nadin dan Ringgo menarik Nadin kebelakang untuk ngobrol sebentar “kok kamu
gitu,? Jalan sini-sana tanpa pengendalian diri gitu,??”tanya Ringgo kepada Nadin
dan Nadinpun terkejut dengan pertanyaan Ringgo “maksud kamu apa,? Emang ada
yang salah ya sama aku?”tanggap Nadin, “iya,,, kamu salah besar,, masa’ kamu
bergerak sana-sini begitu bebas seolah-olah kamu sedang berada disana sendirian
aja,!! Ahhh,,,, jaga dong santun kamu Nad,!!”seru Ringgo dengan ekspresi marah
kepada Nadin, “iya,,,aku salah,,, ma’afin aku yah,,?,aku nggak nyadar kalau aku
sedang bikin kesalahan,, kamu tuntun aku yah sayang yah,,?”ucap Nadin dengan
menenangkan Ringgo yang sedang marah kepadanya, dengan tenang Ringgo menjawab “iya,,,lain
kali jangan gitu lagi yah,!! Jaga santun kamu,! Aku akan selalu nuntun kamu
karena aku pacar kamu”, mendengar kalimat yang terucap dari Ringgo, “iya
sayang,,,”jawab Nadin kepada Ringgo dengan senyum. Merekapun langsung kembali
duduk bersama teman-teman mereka setelah menyelesaikan masalah mereka.
Di tahun tahun
kedua hubungan mereka, mereka selalu dihantui masalah yang muncul-muncul
dihubungan mereka bahkan hubungan mereka sempat renggang karena masalah,dan
terkadang mereka terlihat seperti orang yang sedang stres ketika masalah yang
muncul bertubi-tubi di hubungan mereka. Walaupun masalah demi masalah yang
selalu muncul,mereka tidak pernah berkeinginan untuk lari dari kenyataan.
Pada akhir tahun
kedua hubungan mereka, Ringgo merasakan hari demi hari kegeoisan yang berlarut
sehingga membuatnya seolah-olah ingin mengalah dalam hubungannya. Tiba-tiba di
suatu hari, Nadin sakit dan menginginkan Ringgo berada disampingnya diwaktu
itu. Ringgopun setia menemani Nadin selama Nadin sakit, apapun keinginan yang
disampaikan oleh Nadin selalu dipenuhi dengan tegar dan tabah hingga Nadin
Sembuh. Ringgo adalah sesosok cowok yang tegar, ia sangat sayang kepada Nadin.
Setelah kian lama pacaran, akhirnya kisah yang membuat Ringgo harus
tersenyum dalam tangisanpun bermula. Malam itu Ringgo kerumah Nadin dan
ngobrol-ngobrol di teras rumahnya Nadin, mereka terlihat bahagia sekali.
Setelah lama ngobrol-ngobrol dengan Nadin dirumahnya,Ringgopun pulang ke
kossannya dengan senang karena ia merasa bahagia setelah bertemu dan bercanda
tawa dengan Nadin. Sesampainya Ringgo dikamar kosnya, tiba-tiba kepala Ringgo
terasa pusing hingga Ringgo terjatuh dilantai kamarnya. Disaat itu juga Ringgo
berusaha untuk bangun,tetapi Ringgo tidak sanggup untuk berdirinya hingga
akhirnya Ringgo mencoba menelepon temannya untuk meminta pertolongan dan
ternyata tak seorangpun temannya yang mengengkat telepon dari Ringgo. Di tengah
menahan pusing, Ringgo akhirnya menelepon Nadin dan Nadinpun mengangkat telepon
dari Ringgo “Nad,,kamu bisa bantu aku nggak,? Pas nyampe di kamar kos,tiba-tiba
kepalaku pusing dan aku terjatuh ke lantai,! Kamu bisa kesini nggak,? Aku
serius Nad,, please,!”saru Ringgo kepada Nadin melalui telepon, “hmmm,,,,
gimana yaa,,!! Sorry Go,,aku nggak bisa,!! Aku nggak bisa keluar malam Go,!
Kamu kan tau sendiri kalau aku nggak dibolehin keluar malam sama mama,!apa lagi
jam segini lagi,!!”tanggap Nadin terhadap Ringgo. Mendengar tanggapan yang
mengesankan dari Nadin, “iya,,nggak apa-apa kok Nad,,!”ucap Ringgo kepada Nadin
sambil menutup telepon karena tidak sanggup untuk banyak bicara. Tanpa menerima
jawaban pertolongan dari orang-orang yang telah ia coba hubungi, Ringgo
langsung berusaha merangkak ke tempat tidurnya hingga Ringgopun pingsan dan
tergeletak dilantai kamarnya.
Tepat pada pukul 03.00, Ringgopun sadar, ia langsung ke tempat
tidurnya dengan merangkak. Sesampai ditempat tidurnya, Ringgo melihat
handphonnya karena mungkin ada tanggapan dari orang-orang yang telah ia coba
hubungi tadi,ternyata ada panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Nadin,
dan Ringgopun membuka pesan masuk dari Nadin. Dengan kaget, ternyata isi pesan
dari Nadin “Ringgo,,! Kenapa nggak diangkat-angkat telpon dari aku,? Udah di
smsin,nggak diangkat juga!, kamu marah?, aku capek Go,!”kata Nadin melalui
sms. membaca isi pesan dari Nadin, Ringgo langsung membalas pesan dari
Nadin “Nad,,kamu salah paham Nad,,!,”tanggap Ringgo melalui sms kepada
Nadin, “ahh,,,alasan aja,,,! Bilang aja kalau kamu ngambek,! Kita udah nggak
saling mengerti sekarang Go,! Ada baiknya kita akhiri hubungan ini Go,! Aku
cape’ Go kayak gini terus!kenapa kamu cuekin aku Go,?”kata Nadin melalui
sms kepada Ringgo. Membaca pesan dari Nadin,Ringgo terdiam dan membalas pesan
Nadin “kamu udah berubah Nad,!baiklah kalau gitu Nad,,ada benarnya juga apa
yang kamu bilang itu Nad,”jawab Ringgo tanpa menjelaskan kepada Nadin
bahwasanya diwaktu Nadin menghubunginya,ia sedang pingsan. Ringgo sedih, akhirnya
hubungan mereka harus berakhir dengan kesalah pahaman. Ringgo merasa terpukul
dengan apa yang telah terjadi antara dirinya bersama Nadin yang bermuara dari
kesalah pahaman.
Pada malam harinya, Ringgo sangat memikirkan kata-kata dari Nadin
kepadanya hingga ringgo memutuskan untuk berhenti kuliah dan pulang ke
kampungnya. Disaat itu juga, Ringgo befikir dalam lamunan “betapa mudahnya daun
yang berada di pangkal dahan sebatang pohon itu layu sehingga berguguran ia
terpaksa harus gugur ,!”ucap Ringgo dalam hatinya. Tanpa berfikir panjang,
Ringgo langsung pulang ke kampung halamannya,Ringgo sudah tidak sanggup lagi
kuliah dengan keadaan perasaan yang telah jatuh dan hanyut. Ringgopun mulai
menyadari ternyata memang susah untuk mengejar dan menggenggam sang mentari
yang sedang bersinar sehingga ia terpaksa harus mengalah dari kenyataan.
Setibanya Ringgo di kampung halamannya, Ringgo tidak ingin lagi
pergi kedaerah dimana ia telah terpukul jatuh dihalaman itu lagi. Sementara
Nadin merindukan Ringgo setiap saat karena ia menyesal dengan apa yang telah ia
lakukan terhadap Ringgo yang sangat sayang kepadanya, “Ringgo,! Ma’afin aku
go,! Aku salah,! Masalah kecil,aku besarkan dulu Go,!! Aku bodoh Go,! Aku
sayang kamu Go,! Ringgooo,,,!!!” ungkap Nadin dengan meneteskan air mata
didalam kamarnya. setiap kuliah Nadin selalu menunggu kedatanga Ringgo di
kampusnya, dan Ringgopun tidak pernah hadir disaat ada jam pertemuan dalam
perkuliahan hingga suatu hari Nadin menangis “Ringgo,,,!! Akan ku tunggu kamu
sampai kapan pun Go,! Aku nggak akan mencari pengganti kamu dalam hidupku Go,!
Tunggu aku Go,,! Hidup tanpa kamu,aku nggak bisa Go,! Lebih baik aku menyendiri
untuk selama-lamanya Go,!”ucap Nadin yang sedang galau merindui Ringgo.
Penantian demi penantian yang tiada henti dirasakan oleh Nadin hingga Nadin
berhasil meraih gelar dari Strakta satu yang ia inginkan.
Setamatnya Nadin dari Widyaswara Indonesia, Nadin langsung melamar
pekerjaan sebagai guru honorer di Sekolah Dasar dan Nadinpun diterima di
Sekolah dasar tersebut. Setelah beberapa tahun menjadi guru honorer, Nadin
diangkat oleh pemerintah sebagai pegawai negeri sipil di Sekolah Dasar tempat
yang dimana ia menjadi guru honorer hingga Nadinpun sukses. Dibalik kesuksesan
yang dirasakan oleh Nadin, ternyata ada tangisan yang telah lama terpendam di
hati Nadin. Nadin masih merindukan Ringgo walaupun setelah lama berpisah hingga
Nadin hidup dalam kemewahan dalam kesendirian, ia merasakan kemewahan yang ia
rasakan belum lengkap didalam hidupnya.
Suatu hari, Nadin teringat kisah saat bermanja-manjaan bersama
Ringgo hingga membuat Nadin meneteskan air matanya. Mengingat masa-masa tertawa
memang pedih keika sedang sedang dilanda kesedihan, intan dan permata pun
terlihat bisa terlihat seperti butiran debu yang tak bertuah dan Hati akan
mengalahkan jantung yang berdetak hingga jantung itu terhenti ketika hati
merasa pedih.
Dengan tiba-tiba pada hari minggu waktu itu, hati Nadin seolah-olah
berkata ingin mencari Ringgo ke kampung tempat tinggal Ringgo yaitu di Tanjung
Pauh. Tanpa berpikir panjang, Nadinpun langsung pergi ke daerah tanjung pauh
dengan mobil pribadi yang dimilikinya
bertekat ingin bertemu dengan Ringgo dan meminta ma’af atas kesalahan yang
pernah ia lakukan terhadap Ringgo.
Dialam perjalanan menuju tanjung pauh, Nadin melihat banyak gedung
yang sedang dibangun dan melihat begitu padatnya daerah itu dengan rumah-rumah
mewah di pinggiran jalan hingga masuk ke wilayah Tanjung Pauh. Setibanya Nadin
di wilayah Tanjung Pauh, Nadin merasa agak lega karena sebentar lagi ia pasti
akan bertemu dengan Ringgo. Dengan rasa penasaran yang dirasakan oleh
Nadin,“aku udah nyampe di tanjung pauh,,aku pasti akan ketemu dengan
Ringgo,,tapi,,apa Ringgo udah dengan yang lain ya,,?”ucap Nadin didalam
hatinya. Dengan laju mobil yang begitu kencang,Nadin masih terbuai-buai dengan
lamunan. Dengan kecepatan maksimal dan rem yang tak terkendali oleh Nadin,
tiba-tiba “trrraaaakkkk,,!!”” Nadin menabrak seorang kuli bangunan yang sedang
bekerja di pinggir perempatan jalan. Nadin terkejut telah menabrak seorang kuli
bangunan dan mengaku salah karena membawa mobil dengan melamun hingga Nadinpun
terpaksa keluar dari mobilnya untuk melihat korban yang ia tanbrak dengan tubuh
bergetar karena terkejut. Sesampai didepan mobil, ternyata korban yang ia
tabrak itu adalah Ringgo. Melihat korban yang ia tabrak itu adalah Ringgo,
Nadin langsung merangkul Ringgo ke pangkuannya “Ringgo,,,! Ringgo,!!! Ya allah
Ringgo,,! Ma’afin aku Go,!!”ucap Nadin yang langsung menangis dengan histeris
dan Ringgo terluka parah dibagian kepalanya.
***
Ringgo langsug dibawa kerumah sakit oleh Nadin dengan tangisan yang
histeris dan panik. Sesampai dirumah sakit, Ringgo langsung dibawa ke ruangan
UGD dan Nadinpun menunggu di luar ruangan. Setelah lama menunggu Ringgo di
tangani dan diperiksa oleh dokter di ruangan UGD, hingga dokterpun keluar dari
ruangan menghampiri Nadin “mbak,,, mbak yang tabah ya mbak,,pasien tidak bisa
diselamatkan,! Kami telah brusaha mbak,,Pasien meninggal dunia mbak,!”ucap
dokter itu kepada Nadin. Ternyata Ringgo tidak terselamatkan dan meninggal
dunia akibat terjadi benturan keras pada bagian kepalanya. Mendengar penjelasan
dari dokter, Nadin langsung berlari kedalam Ruangan dan langsung memeluk ringgo
yang sudah tidak berdaya. Nadin menangis dengan histeris
“Ringggooooo,,,!!!!,,banguun Ringggooo,!! Aku emang jahat Gooo,,!”ucap Nadin
kepada Ringgo yang sudah tidak berdaya lagi.
Nadin syok karena telah menabrak orang yang ia cintai hingga
meninggal dunia, padahal ia sangat mengimpikan bertemu dengan orang yang ia
cintai itu lagi. Kenyataan yang terjadi, ternyata Nadin bertemu dengan sosok
Ringgo yang ia cintai dan ia sayangi disaat Ringgo harus menutup mata untuk
selama-lamanya. Perasaan Nadin sangat terpukul karena harus menerima kenyataan
bahwa ia tidak bisa lagi bertemu dengan Ringgo untuk selama-lamanya dan harus
menjalani kenyataan hidup dengan sendiri.
Cinta memang begitu indah untuk insan-insan sedang bahagia,tetapi
tidak untuk insan-insan yang harus hidup sendiri untuk selama-lamanya dengan
keterbatasannya. Terkadang, sebagian orang mengatakan bahwa cinta itu berawal
dari pertemuan dan akan abadi jika dua hati telah bersatu, padahal kenyataan
yang sebenarnya adalah “perpisahan itu bermuara dari pertemuan”.
Terimakasih
telah membaca.!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar