Minggu, 20 Maret 2016

RINDUKAN KEMA'AFAN DARIKU



            Sering sekali kita memuji sang mentari yang menerangi hari-hari kita, namun akhirnya mentaripun hilang disaat disaat datangnya waktu malam. Setiap manusia yang hidup dibumi, pasti merasakan kisah keluh disaat mentari harus pergi dari siang. Terkadang bagi orang yang sedang melakukan tugas penting harus terhenti karena terang telah ditelan oleh kegelapan, dan kisah itu dirasakan oleh seorang pemuda yang bernama Ringgo yang berasal dari desa tanjung pauh. Ringgo adalah seorang pemuda yang lugu dan belum tahu betapa buasnya  kehidupan. Dengan keluguan yang ada pada diri Ringgo, ternyata Ringgo memiliki bakat yang luar biasa yaitu melukis dan bisa bernyanyi dengan baik, padahal Ringgo waktu itu sedang kuliah di yayasan Widyaswara Indonesia yang bertempat di solok selatan dan mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Di solok selatan,Ringgo tinggal sendiri di kossan dengan kehidupan yang sederhana di kos.  Ringgo sungguh unik, ia tidak memilih jurusan yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya, Ringgo lebih memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar karena ingin belajar beberapa pendekatan didalam hidup,psikologi,dan karakter-karekter manusia dengan tujuan ingin lari dari keluguannya.
            Waktu kuliah yang tepatnya pada saat Ringgo semester tiga, Ringgo bertemu dengan seorang gadis yang bernama Nadin yang juga seorang mahasiswi di yayasan Widyaswara Indonesia. Pertemuan antara Ringgo dengan Nadin berawal dari perkenalan saat acara diskusi kecil yang dibuka oleh mahasiswa dan terbuka untuk seluruh mahasiswa Widyaswara Indonesia. Saat itu, Ringgo sangat tertarik dengan karakter yang dimiliki oleh Nadin karena Nadin memiliki sikap yang sopan dan memiliki sifat yang sesuai dengan karakter yang didambakan oleh Ringgo. Disaat acara diskusi selesai,Ringgopun menghampiri Nadin diluar ruangan dan merekapun ngobrol. Dengan bahasa Ringgo yang sopan terhadap Nadin, akhirnya obrolan mereka sangat nyambung dan mereka mulai akrab.
            ***
            Setelah lama dekat dan bahkan sering berkomunikasi dengan Nadin secara langsung maupun lewat handphone, Ringgo mulai memuji sang mentari yang sedang bersinar “kau begitu sederhana Nadin,,!sopan dan santunmu membuat aku gugup,!”ucap Ringgo didalam hatinya. Sementara itu, ternyata Nadin juga menyimpan perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Ringgo. Hari-hari yang dilalui oleh Ringgo selalu diisi oleh kehadiran Nadin disisinya baik diwaktu senggangnya maupun disaat berada dikampus tempat kuliahnya,hingga akhirnya Ringgo dan Nadin berpacaran.
            Ringgo merasakan seolah ia telah menggenggam mentari yang sedang bersinar, ia merasa bahagia karena wanita yang memenuhi karakter seperti yang ia suka itu telah berhasil ia miliki. Dari awal jadiannya Ringgo dengan Nadin hingga setahun jadian, kebahagiaan yang dirasakan oleh sepasang kekasih itu sangat terlihat bagaikan sepasang merpati yang sedang bercanda diranting pinus. Disaat itu juga, sangat terlihat hubungan Ringgo dengan Nadin bagaikan mutiara yang tidak bisa terlepas dari cangkangnya sehingga Ringgo merasakan bahwa ia telah terlepas dari keluguannya dan mulai merasakan suasana hidup yang baru. Ternyata, dengan kehadiran Nadin di kehidupannya merubah segalanya dari Ringgo.
            Tahun pertama terlewati oleh Ringgo bersama Nadin. Memasuki tahun yang kedua hubungan Ringgo bersama Nadin, mereka mulai merasakan pahit maupun asam dengan masalah yang muncul di hubungan mereka. Sore itu, ketika Ringgo dan Nadin sedang duduk bersama teman-teman mereka,Ringgo melihat ada yang tidak beres pada kepribadian Nadin dan Ringgo menarik Nadin kebelakang untuk ngobrol sebentar “kok kamu gitu,? Jalan sini-sana tanpa pengendalian diri gitu,??”tanya Ringgo kepada Nadin dan Nadinpun terkejut dengan pertanyaan Ringgo “maksud kamu apa,? Emang ada yang salah ya sama aku?”tanggap Nadin, “iya,,, kamu salah besar,, masa’ kamu bergerak sana-sini begitu bebas seolah-olah kamu sedang berada disana sendirian aja,!! Ahhh,,,, jaga dong santun kamu Nad,!!”seru Ringgo dengan ekspresi marah kepada Nadin, “iya,,,aku salah,,, ma’afin aku yah,,?,aku nggak nyadar kalau aku sedang bikin kesalahan,, kamu tuntun aku yah sayang yah,,?”ucap Nadin dengan menenangkan Ringgo yang sedang marah kepadanya, dengan tenang Ringgo menjawab “iya,,,lain kali jangan gitu lagi yah,!! Jaga santun kamu,! Aku akan selalu nuntun kamu karena aku pacar kamu”, mendengar kalimat yang terucap dari Ringgo, “iya sayang,,,”jawab Nadin kepada Ringgo dengan senyum. Merekapun langsung kembali duduk bersama teman-teman mereka setelah menyelesaikan masalah mereka.
            Di tahun tahun kedua hubungan mereka, mereka selalu dihantui masalah yang muncul-muncul dihubungan mereka bahkan hubungan mereka sempat renggang karena masalah,dan terkadang mereka terlihat seperti orang yang sedang stres ketika masalah yang muncul bertubi-tubi di hubungan mereka. Walaupun masalah demi masalah yang selalu muncul,mereka tidak pernah berkeinginan untuk lari dari kenyataan.
            Pada akhir tahun kedua hubungan mereka, Ringgo merasakan hari demi hari kegeoisan yang berlarut sehingga membuatnya seolah-olah ingin mengalah dalam hubungannya. Tiba-tiba di suatu hari, Nadin sakit dan menginginkan Ringgo berada disampingnya diwaktu itu. Ringgopun setia menemani Nadin selama Nadin sakit, apapun keinginan yang disampaikan oleh Nadin selalu dipenuhi dengan tegar dan tabah hingga Nadin Sembuh. Ringgo adalah sesosok cowok yang tegar, ia sangat sayang kepada Nadin.
Setelah kian lama pacaran, akhirnya kisah yang membuat Ringgo harus tersenyum dalam tangisanpun bermula. Malam itu Ringgo kerumah Nadin dan ngobrol-ngobrol di teras rumahnya Nadin, mereka terlihat bahagia sekali. Setelah lama ngobrol-ngobrol dengan Nadin dirumahnya,Ringgopun pulang ke kossannya dengan senang karena ia merasa bahagia setelah bertemu dan bercanda tawa dengan Nadin. Sesampainya Ringgo dikamar kosnya, tiba-tiba kepala Ringgo terasa pusing hingga Ringgo terjatuh dilantai kamarnya. Disaat itu juga Ringgo berusaha untuk bangun,tetapi Ringgo tidak sanggup untuk berdirinya hingga akhirnya Ringgo mencoba menelepon temannya untuk meminta pertolongan dan ternyata tak seorangpun temannya yang mengengkat telepon dari Ringgo. Di tengah menahan pusing, Ringgo akhirnya menelepon Nadin dan Nadinpun mengangkat telepon dari Ringgo “Nad,,kamu bisa bantu aku nggak,? Pas nyampe di kamar kos,tiba-tiba kepalaku pusing dan aku terjatuh ke lantai,! Kamu bisa kesini nggak,? Aku serius Nad,, please,!”saru Ringgo kepada Nadin melalui telepon, “hmmm,,,, gimana yaa,,!! Sorry Go,,aku nggak bisa,!! Aku nggak bisa keluar malam Go,! Kamu kan tau sendiri kalau aku nggak dibolehin keluar malam sama mama,!apa lagi jam segini lagi,!!”tanggap Nadin terhadap Ringgo. Mendengar tanggapan yang mengesankan dari Nadin, “iya,,nggak apa-apa kok Nad,,!”ucap Ringgo kepada Nadin sambil menutup telepon karena tidak sanggup untuk banyak bicara. Tanpa menerima jawaban pertolongan dari orang-orang yang telah ia coba hubungi, Ringgo langsung berusaha merangkak ke tempat tidurnya hingga Ringgopun pingsan dan tergeletak dilantai kamarnya.
Tepat pada pukul 03.00, Ringgopun sadar, ia langsung ke tempat tidurnya dengan merangkak. Sesampai ditempat tidurnya, Ringgo melihat handphonnya karena mungkin ada tanggapan dari orang-orang yang telah ia coba hubungi tadi,ternyata ada panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Nadin, dan Ringgopun membuka pesan masuk dari Nadin. Dengan kaget, ternyata isi pesan dari Nadin “Ringgo,,! Kenapa nggak diangkat-angkat telpon dari aku,? Udah di smsin,nggak diangkat juga!, kamu marah?, aku capek Go,!”kata Nadin melalui sms. membaca isi pesan dari Nadin, Ringgo langsung membalas pesan dari Nadin “Nad,,kamu salah paham Nad,,!,”tanggap Ringgo melalui sms kepada Nadin, “ahh,,,alasan aja,,,! Bilang aja kalau kamu ngambek,! Kita udah nggak saling mengerti sekarang Go,! Ada baiknya kita akhiri hubungan ini Go,! Aku cape’ Go kayak gini terus!kenapa kamu cuekin aku Go,?”kata Nadin melalui sms kepada Ringgo. Membaca pesan dari Nadin,Ringgo terdiam dan membalas pesan Nadin “kamu udah berubah Nad,!baiklah kalau gitu Nad,,ada benarnya juga apa yang kamu bilang itu Nad,”jawab Ringgo tanpa menjelaskan kepada Nadin bahwasanya diwaktu Nadin menghubunginya,ia sedang pingsan. Ringgo sedih, akhirnya hubungan mereka harus berakhir dengan kesalah pahaman. Ringgo merasa terpukul dengan apa yang telah terjadi antara dirinya bersama Nadin yang bermuara dari kesalah pahaman.
Pada malam harinya, Ringgo sangat memikirkan kata-kata dari Nadin kepadanya hingga ringgo memutuskan untuk berhenti kuliah dan pulang ke kampungnya. Disaat itu juga, Ringgo befikir dalam lamunan “betapa mudahnya daun yang berada di pangkal dahan sebatang pohon itu layu sehingga berguguran ia terpaksa harus gugur ,!”ucap Ringgo dalam hatinya. Tanpa berfikir panjang, Ringgo langsung pulang ke kampung halamannya,Ringgo sudah tidak sanggup lagi kuliah dengan keadaan perasaan yang telah jatuh dan hanyut. Ringgopun mulai menyadari ternyata memang susah untuk mengejar dan menggenggam sang mentari yang sedang bersinar sehingga ia terpaksa harus mengalah dari kenyataan.
Setibanya Ringgo di kampung halamannya, Ringgo tidak ingin lagi pergi kedaerah dimana ia telah terpukul jatuh dihalaman itu lagi. Sementara Nadin merindukan Ringgo setiap saat karena ia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Ringgo yang sangat sayang kepadanya, “Ringgo,! Ma’afin aku go,! Aku salah,! Masalah kecil,aku besarkan dulu Go,!! Aku bodoh Go,! Aku sayang kamu Go,! Ringgooo,,,!!!” ungkap Nadin dengan meneteskan air mata didalam kamarnya. setiap kuliah Nadin selalu menunggu kedatanga Ringgo di kampusnya, dan Ringgopun tidak pernah hadir disaat ada jam pertemuan dalam perkuliahan hingga suatu hari Nadin menangis “Ringgo,,,!! Akan ku tunggu kamu sampai kapan pun Go,! Aku nggak akan mencari pengganti kamu dalam hidupku Go,! Tunggu aku Go,,! Hidup tanpa kamu,aku nggak bisa Go,! Lebih baik aku menyendiri untuk selama-lamanya Go,!”ucap Nadin yang sedang galau merindui Ringgo. Penantian demi penantian yang tiada henti dirasakan oleh Nadin hingga Nadin berhasil meraih gelar dari Strakta satu yang ia inginkan.
Setamatnya Nadin dari Widyaswara Indonesia, Nadin langsung melamar pekerjaan sebagai guru honorer di Sekolah Dasar dan Nadinpun diterima di Sekolah dasar tersebut. Setelah beberapa tahun menjadi guru honorer, Nadin diangkat oleh pemerintah sebagai pegawai negeri sipil di Sekolah Dasar tempat yang dimana ia menjadi guru honorer hingga Nadinpun sukses. Dibalik kesuksesan yang dirasakan oleh Nadin, ternyata ada tangisan yang telah lama terpendam di hati Nadin. Nadin masih merindukan Ringgo walaupun setelah lama berpisah hingga Nadin hidup dalam kemewahan dalam kesendirian, ia merasakan kemewahan yang ia rasakan belum lengkap didalam hidupnya.
Suatu hari, Nadin teringat kisah saat bermanja-manjaan bersama Ringgo hingga membuat Nadin meneteskan air matanya. Mengingat masa-masa tertawa memang pedih keika sedang sedang dilanda kesedihan, intan dan permata pun terlihat bisa terlihat seperti butiran debu yang tak bertuah dan Hati akan mengalahkan jantung yang berdetak hingga jantung itu terhenti ketika hati merasa pedih.
Dengan tiba-tiba pada hari minggu waktu itu, hati Nadin seolah-olah berkata ingin mencari Ringgo ke kampung tempat tinggal Ringgo yaitu di Tanjung Pauh. Tanpa berpikir panjang, Nadinpun langsung pergi ke daerah tanjung pauh dengan mobil pribadi yang dimilikinya  bertekat ingin bertemu dengan Ringgo dan meminta ma’af atas kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap Ringgo.
Dialam perjalanan menuju tanjung pauh, Nadin melihat banyak gedung yang sedang dibangun dan melihat begitu padatnya daerah itu dengan rumah-rumah mewah di pinggiran jalan hingga masuk ke wilayah Tanjung Pauh. Setibanya Nadin di wilayah Tanjung Pauh, Nadin merasa agak lega karena sebentar lagi ia pasti akan bertemu dengan Ringgo. Dengan rasa penasaran yang dirasakan oleh Nadin,“aku udah nyampe di tanjung pauh,,aku pasti akan ketemu dengan Ringgo,,tapi,,apa Ringgo udah dengan yang lain ya,,?”ucap Nadin didalam hatinya. Dengan laju mobil yang begitu kencang,Nadin masih terbuai-buai dengan lamunan. Dengan kecepatan maksimal dan rem yang tak terkendali oleh Nadin, tiba-tiba “trrraaaakkkk,,!!”” Nadin menabrak seorang kuli bangunan yang sedang bekerja di pinggir perempatan jalan. Nadin terkejut telah menabrak seorang kuli bangunan dan mengaku salah karena membawa mobil dengan melamun hingga Nadinpun terpaksa keluar dari mobilnya untuk melihat korban yang ia tanbrak dengan tubuh bergetar karena terkejut. Sesampai didepan mobil, ternyata korban yang ia tabrak itu adalah Ringgo. Melihat korban yang ia tabrak itu adalah Ringgo, Nadin langsung merangkul Ringgo ke pangkuannya “Ringgo,,,! Ringgo,!!! Ya allah Ringgo,,! Ma’afin aku Go,!!”ucap Nadin yang langsung menangis dengan histeris dan Ringgo terluka parah dibagian kepalanya.
***
Ringgo langsug dibawa kerumah sakit oleh Nadin dengan tangisan yang histeris dan panik. Sesampai dirumah sakit, Ringgo langsung dibawa ke ruangan UGD dan Nadinpun menunggu di luar ruangan. Setelah lama menunggu Ringgo di tangani dan diperiksa oleh dokter di ruangan UGD, hingga dokterpun keluar dari ruangan menghampiri Nadin “mbak,,, mbak yang tabah ya mbak,,pasien tidak bisa diselamatkan,! Kami telah brusaha mbak,,Pasien meninggal dunia mbak,!”ucap dokter itu kepada Nadin. Ternyata Ringgo tidak terselamatkan dan meninggal dunia akibat terjadi benturan keras pada bagian kepalanya. Mendengar penjelasan dari dokter, Nadin langsung berlari kedalam Ruangan dan langsung memeluk ringgo yang sudah tidak berdaya. Nadin menangis dengan histeris “Ringggooooo,,,!!!!,,banguun Ringggooo,!! Aku emang jahat Gooo,,!”ucap Nadin kepada Ringgo yang sudah tidak berdaya lagi.
Nadin syok karena telah menabrak orang yang ia cintai hingga meninggal dunia, padahal ia sangat mengimpikan bertemu dengan orang yang ia cintai itu lagi. Kenyataan yang terjadi, ternyata Nadin bertemu dengan sosok Ringgo yang ia cintai dan ia sayangi disaat Ringgo harus menutup mata untuk selama-lamanya. Perasaan Nadin sangat terpukul karena harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi bertemu dengan Ringgo untuk selama-lamanya dan harus menjalani kenyataan hidup dengan sendiri.
Cinta memang begitu indah untuk insan-insan sedang bahagia,tetapi tidak untuk insan-insan yang harus hidup sendiri untuk selama-lamanya dengan keterbatasannya. Terkadang, sebagian orang mengatakan bahwa cinta itu berawal dari pertemuan dan akan abadi jika dua hati telah bersatu, padahal kenyataan yang sebenarnya adalah “perpisahan itu bermuara dari pertemuan”.


Terimakasih
telah membaca.!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar